"KALAU TAKUT DIPUKUL OMBAK, JANGAN BERUMAH DITEPI PANTAI."....pepatah Melayu.

Friday, September 16, 2011

BERGURU KEPALANG AJAR.....





Berburu Di Padang Datar
Dapat Rusa Belang Kaki
Berguru Kepalang Ajar
Bagai Bunga Kembang Tak Jadi.





Saya rasa ramai antara kita yang  sedikit sebanyak kadangkala  terjebak dalam sindrom "berguru kepalang ajar". Saya katakan demikian kerana ramai diantara kita yang "suka" memperkatakan sesuatu yang kita sebenarnya tidak berapa  tahu mengenai perkara itu dan jauh sekali seorang pakar dalam perkara yang di perkatakan. Tetapi mengikut  sifat manusia biasa  kita sering terdorong untuk ikut sama  memberi pandangan. Kadang kala pandangan itu tidak diperlukan pun. Dengan lain perkatan, ia tidak memberi nilai tambah dalam perbincangan tersebut, malah ia boleh mengelirukan dan menjadi "counter productive".

Kebelakangan ini sebagai contoh ialah perbincangan mengenai Sejarah Kemerdekaan negara kita Malaysia. Sebagai pelajar dahulu lagi saya diajar  siapa hero-hero kita yang memperjuangkan kemerdekaan. Sekarang ini timbul pula teori-teori lain yang mencabar kesahihan fakta yang ada. Ada yang berkata Malaysia tidak pernah dijajah. Ada yang kata Pejuang kemerdekaan yang sebenarnya tidak mendapat pengiktirafan yang sewajarnya, dan berbagai lagi pendapat. Dalam hal ini  siapa pula yang akan menjadi hakim untuk menentukan siapa betul dan siapa salah. 

Masaalah fakta sejarah ini bukan di Malaysia sahaja ada perbalahan siapa betul siapa salah. Dalam memperkatakan hukum hakam Islam pun wujud hadith sahih dan hadith maudhu atau palsu. Maka  sejarah  negara kita juga menemui controversi seperti ini. Sebab itu ada orang memperkatakan : "Is it Fact or Faction". Sejarah boleh ditulis mengikut "cita rasa" seseorang pencatat atau penulis sejarah. Fahaman dan perspektif pemikiran kita selalu berbeza mengikut pengalaman pahit atau manis yang telah kita lalui. Maka timbulah pertelingkahan seperti ini.

Saya pernah membaca di internet suatu masa dahulu fakta sejarah yang mengatakan Amerika itu bukan di "discover" oleh Christopher Columbus. Katanya,  penulis yang mengatakan Columbus "discovered" Amerika adalah satu "pembohongan" oleh pencatat sejarah. Ini berlaku mungkin kerana tidak ada kesan-kesan sejarah yang tercatat jelas  atau mungkin ada muslihat politik oleh kuasa besar ketika itu mahu memperluas pengaruh mereka di pentas dunia ini. Dalam rencana yang saya baca, di katakan bahawa dalam rombongan Columbus itu sudah ada seorang penterjemah bahasa Arab. Kalau begitu pastinya di Amerika sana sudah wujud sekumpulan manusia yang telah "bertamadun" dan berbahasa Arab. Tambahan pula kesan artifacts yang dikumpulkan ada ciri-ciri  seni ukir Arab.

Apa yang saya ingin perkatakan di sini ialah satu persoalan  sama ada besar munafaatnya untuk "berkelahi" dalam hal-hal seperti ini. Siapakah pejuang Kemerdekaan Tanah Air. Allah tahu siapa yang telah gugur syahid.  Sememangnya sejarah itu penting. Ia maruah negara.  Tetapi pada  hemah saya yang perlu diberi perhatian sewajarnya ialah perihal sekarang ini, "here and now".  

Barang yang lepas janganlah sangat-sangat dikenang hingga ketahap merugikan masa dan tenaga. Mungkin lebih baik kita   memperkatakan dan bertindak  melaksana strategi perjuangan yang lebih penting untuk sekarang dan masa hadapan.


Mengapakah kita sangat sibuk dengan fakta sama ada Malaysia pernah dijajah atau tidak dijajah. Jika dijajah siapa pula pejuang  kemerdekaan. "Bijak pandai" berbeza pendapat. Pada saya  kenyataan yang terbentang luas sekarang ini ialah  Malaysia kita masih terjajah, iaitu dari segi Minda dan Hati kita. Dalam hampir semua bidang kehidupan, kita terikut-ikut  cara penjajah atau bekas penjajah. Yang sangat ketara ialah dalam hiburan dan rekreasi dan beberapa perilaku sosial yang lain. Maka ini seharusnya yang kita perlu beri perhatian serious, dan bukan mati-mati cuba mempertahankan   apa yang sudah berlepas jauh.

Ayuh, kita tumpu tenaga dan pemikiran kita pada hal-hal amal makruf dan nahi munkar  untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Kita tegakan KEBENARAN ALLAH, sekarang dan jangan teragak-agak. Yang sudah mati tidak boleh bangun membela diri. Maka jangan sampai nanti bila kita sudah mati, banyak pula yang akan mengatakan banyak perkara mungkar yang kita belum insafi dan perbetulkan. Akibat buruk pasti terletak pada generasi turun temurun. Saya rasa itu lebih parah bagi kita yang semestinya menjawab soalan itu di alam barzah nanti. Saya rasa tidak ada soalan mengenai siapa penjajah, siapa pejuang dan siapa pengkhianat.


Kekurangan manusia amat nyata. Sebab itu semasa Allah mencipta Nabi Adam Allah  mengajarkan ilmu yang sepatutnya diketahui olehnya. Ilmu adalah suatu yang berat dan penting.  Malaikat pun tidak terdaya dan ia menjawab seperti yang saya turunkan ayat-ayat Quran di bawah ini. 





Hanya kita yang tidak sempurna ilmu yang ada pada kita. Tetapi kita rasa sebaliknya dan jarang sekali mahu memohon petunjuk dariNya.  Maka ramai diantara kita yang terjebak dengan sindrom "berguru kepalang ajar". Bukan dalam kisah sejarah sahaja, tetapi dalam banyak hal. Mungkin kita boleh  cuba perbincangkan dalam entry yang lain pula.
WaAllahu'alam.
 

Wednesday, September 14, 2011

LAND OF THE FREE, HOME OF THE BRAVE.



HOWEVER HIGH YOU CAN FLY AND THINK YOU ARE FREE,
 YOU NEED SOME PLACE TO LAND AND REST YOUR WINGS.
HOWEVER  SMART YOU THINK YOU ARE,
THERE IS NO PLACE TO HIDE YOUR WEAKNESSES.
WHICHEVER WAY YOU SHOW YOUR MIGHT AND POWER,
ALLAH IS GREATEST, MOST POWERFUL, MOST MERCIFUL.
AND HE  LOVES ONLY THOSE WHO  WORSHIP  NONE OTHERS BUT HIM,
AND TRULY BELIEVE THAT PROPHET MUHAMMAD (PBUH) IS HIS MESSENGER.

If you watched  CNN and the like, for the past one week or so, we are reminded of the painful event of September Eleven, 9/11.  It is painful for the people of United States of America., but not so painful perhaps for others who consider US as their enemy. The powerful media of the West and its allies made sure that the people of the world sympathize with the Americans and to beware of the perpetrators whom they believe to be Muslims "extremists".

The controversies about the event of 9/11 is clear and one can read them at appropriate websites. Some say it is the work of the Jews in conspiracy with the US and Israel. It is their own doing so that this most powerful nation in the world today can control others as they pleased. America may be the richest nation and most powerful militarily, but America now lives in fear and always feel insecure.

I do not wish to say who is right in any of the theories given because I am in no position to verify the facts. My wish is to share with my visitors or readers  here that there is only one truth in this wide  world as who can be the ultimate power holder and feel at peace  now and forever. The Quran said: Chapter 24, Verse 55
http:www.surah.my/24


"GOD  has promised those of you who have attained to Faith and do Righteous deeds that, of a certainty, HE will cause them to accede to power on Earth, #1 even as HE caused (some of) those who lived before them to accede it;  and that, of a certainty, HE will firmly establish for them the Religion which HE has been pleased to bestow on them;#2 and that of a certainty, HE will cause their erstwhile state of fear to be replaced by a sense of security #3 - (seeing that)  they worship ME (alone), not ascribing divine powers to aught beside ME #4. But all who, after (having understood) this, choose to deny the truth - it is they, they who are truly iniquitous".

Translation by Muhammad Assad.(The Message of The Quran)
#1 - Lit.,  cause them to be successors on Earth, i.e: enable them to achieve in their turn, power and security and, thus, the capability to satisfy their worldly needs. This Quranic reference to God's "promise" contains an oblique allusion to the God-willed natural law which invariably makes the rise and fall of nations dependent on their moral qualities.
#2 - Cf  5:3 - "I have willed that self-surrender unto ME (al-Islam) shall be your religion". Its 'firm establishment' relates to the strengthening of the Believers' Faith as well as to the growt5h of its moral influence in the world.
#3 - Lit., "exchange for them, after their fear (or - danger), security". It is to be noted that the term amn signifies not merely outward, physical security but also - and, indeed, originally - "freedom from fear"  Hence the above clause implies not only a promise of communal security after an initial period of weakness and danger (which as history tells us, overshadows the beginnings of every genuine religious movement), but also the promise of an individual sense of inner security - that absence of all fear of the unknown which characterizes a True Believer.
#4 - i.e the believer's freedom from fear is a direct outcome of his intellectual and emotional refusal to attribute to anyone or anything but God the power to shape his destiny.
"Land of the free, Home of the brave" is in the national Anthem of the USA. But after 9/11, the Muslims in the US and in countries of its allies are not so free physically and mentally and emotionally. They are sometimes subjected to brutal and prolonged  hassles. This is what I gather from the  mainstream Media. However, I have no capacity to verify it.Nevertheless I believe that there must be some truth in this.

And sometimes I feel that the Americans are not so brave after all because they waged wars that are preemptive in nature, believing that otherwise their Homeland will be attacked. Brave people will walk tall and will uphold justice without fear or favor. Just look at Iraq. There is no weapon of mass destruction WMD. Iraq will never be peaceful and prosperous again as long as the US is in control directly or indirectly.

After 9/11 and after the social/political revolutions in the Middle East (which are still continuing in some countries) people of good sense will ask the Question. "WHAT IS THE SOLUTION TO ALL THIS HEART BREAKING AND PAINFUL EVENTS?" 

So, my dear  friends, (Muslims and others) PLEASE read and ponder upon the verses of the Quran, inclusive and especially the one above.That is the only answer if we want to achieve the real meaning of peace, and prosperity and happiness, here and the hereafter.

Tuesday, September 13, 2011

UJAI - MENITI-NITI PERUBAHAN




Satu kenyatan hidup kini. Teknologi amat memikat hati yang pintar dan yang belum pintar dan yang mahu pintar.

Ini Ujai, cucu sulung yang berHari Raya bersama saya dan Tok Ayahnya. Dan kami semua ke Kedah untuk silaturrahim dan berbagai acara yang lain.. Di dalam kereta ia sibuk "menggodam" celfon mengikut suka. Konsentrasinya  hanya tertumpu pada games dalam celfon anak saya yang dipinjamkan padanya. Wah ! Apa lagi. Berhenti menggodam  apabila habis battery. Yang baik bagi kami ialah Ujai tidak buat karenah  lain kerana ia tidak bosan. Dapatlah kami perjalanan yang tenang kerana masa terluang di munafaatkan untuknya.



Ujai berpeluang bermain bunga api dengan kawan-kawan jiran sekampung Tok Teh. Kampung Sungai Batu tidak  gawat dengan alat-alat IT.  Ini fenomena yang perlu perhatian pihak  yang bertanggong jawab selain ibu-bapa dan keluarga. Anak-anak di Kampung tidak menumpu merasai kecanggihan komputer dan celfon dan berbagai lagi peralatan canggih  yang  saya sendiri pun kurang arif.

Ibu Ujai tidak pernah membeli bunga api maka di Sungai Batu ini dia seronok bermain dengan kawan-kawan sebaya dengannya. Cuma ada kalanya dia takut dengan  mainan mercun cili padi yang kecil. Bagaimana di Sungai  Batu boleh dapat merecun pun saya kurang faham. Gambar di bawah kelihatan Ujai berlari mengelak letupan. Dalam hati saya berkata-kata: "A Mujahid in the making? ". Itu satu doa.



Dari Sungai Batu kami ke Penang untuk bermalam di sana sebelum ke Gunung Jerai. Di bilik hotel Ujai sibuk pula cuba "memujuk" dan cuba  meminjam "mainan" Uwais, cucu saya seorang lagi dari anak lelaki saya.


Anak saya  mempunyai Galaxy, salah satu sistem IT yang terkini. Maka anaknya sudah "naik" setahap lagi. Tidak mahu games yang di celfonnya. Maka menjadi satu tugas ibu bapa untuk cuba menggalakan generasi kecil ini berkongsi alat menimba ilmu. Di atas adalah gambar Uwais dan Ujai. Beza umur adalah 3 tahun. Maka oleh kerana "kepintaran" berbeza maka timbullah "pergaduhan" siapa yang punya dan siapa yang berhak meng"klik"nya. Saya rasa fenomena ini bukan habis di sini. Saya katakan pada ibu dan ayahnya bahawa saya tidak berkemampuan untuk mengendalikannya.

Bagaimana agaknya dimasa hadapan  nanti bagi mereka yang kurang kemampuan untuk membelinya?
Soalan ini untuk kepimpinan negara menjawabnya. Kasihan ana-anak yang ibu-bapanya kurang berada dan tiada upaya.

Ketika itu (adat kata)  saya sudah tidak ada di alam ini.

Tetapi bagi anak-anak kecil seperti Ujai dan Uwais masa depannya bukan berkaitan dengan IT sahaja. Yang lebih merisaukan saya ialah apakah jenis pemikiran kepimpinan dan pemikiran masyarakat pada masa akan datang  yang akan mempengaruhi dan mencorak pemikiran anak-anak generasi ini. Sekarang ini  pun keadaan di luar sana sudak simpang siur dari segi pemikiran yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan dan dari segi pembangunan ekonomi dan pencarian rezki, dari segi hiburan dan rekreasi  dan berbagai lagi.

Setengah orang berkata nilai-niali politik sudah mencemari nilai  moral. Seperti setengah orang  mengatakan: "Kita jangan melampau dalam agama". Definasi "melampau"  pun tidak sebenarnya difahami. Kebanyakan kita hanya mengeluarkan semula pendapat orang-orang yang mengiktiraf diri mereka bekelayakan  memperkatakan sesuatu tentang moraliti. Walhal dalam banyak keadaan mereka pun masih kabur apa itu pelampau agama. Ini belum lagi bercerita tentang nilai-nilai yang lainnya.

Kemudian saya perhatikan terdapat  juga  individu yang agak  lemah keupayan berfikiran sistematik, mendalam dan berasaskan ilmu yang benar dilantik menjadi pemimpin. Kemudian mereka melontarkan buah fikiran dan pendapat tanpa bukti yang nyata, atau tanpa bukti sama sekali. (Mungkin ada bukti tetapi tidak tersiar).  Hal seperti ini  boleh membingungkan rakyat dan boleh mengelirukan rakyat. Contohnya sekarang ini ialah pemikiran mengenai sejarah Tanah Air kita, Malaysia. Siapa sebenarnya pejuang bangsa ? Saya sendiri pun "bingung". Mungkin kerana saya sememang lemah dalam "Ilmu Sejarah". Tetapi yang lebih penting dari itu saya takut akan lahir "Identity Crisis" pada anak cucu generasi akan datang. Ada bijak pandai yang mengatakan Malaysia tidak pernah dijajah. Kuasa British hanya datang untuk mengawasi dan menunjuk ajar pemimpin Malaya ketika itu. Lihat rencana blog ini.http://pbaru.blogspot.com/
(The Bullshit Theory of Revised Malaysian History by Majlis Professor Negara).

Maka saya  merenung jauh perilaku Ujai dan Uwais  dan anak-anak kecil yang seumur dengannya sambil berfikir senyap-senyap:  Bagaimana saya mahu membantu cucu cicit diperingkat ini semoga tidak "terperangkap" dengan berbagai kekeliruan. Munkin melalui ibu-bapa mereka. Tetapi sekarang ini pun  ibu-bapa mereka terlalu sibuk menumpu pada kerjaya masing-masing dan jarang sekali memberi peluang dan ruang pada diri sendiri untuk berfikir dan bermuhasabah.
Saya risau.

Fikiran saya seperti sangat pesimistik dengan masa depan Malaysia. Kadang-kadang sememnagnya begitu. Saya merasai halatuju negara kita nampak seperti kabur. Antara hal yang saya fikirkan ialah jika hendak dikata Malaysia ini negara sekular, Perlembagaan Malaysia mengatakan Islam agama rasmi. Tetapi jika  hendak dikatakan ini negara Islam Tulin, saya masih belum dapat menerimanya sepenuh hati. Perlaksanaan undang-undang pun ada yang mempersoalkan kesahihannya.  Maka apakah yang  akan terjadi pada Ujai dan Uwais dan yang lain-lain itu?
Saya risau.

Saya hanya mampu mendampingi mereka dan membantu menndidik sebaik mungkin dan lainya saya pasrah dan berdoa semoga Malaysia terpelihara dari pancaroba. Semoga Allah menunjuki jalan yang benar, jalan-jalan yang Ia redha dan bukan jalan-jalan yang diambil oleh mereka yang sesat lagi menyesatkan.
Semoga selamat  meniti-niti perubahan dan semoga sentiasa dalam peliharaan Allah bagi  generasi anak-cucu kita dan yang berikutnya.


Friday, September 9, 2011

WARIS DARI SINGAPURA.

 

Peristiwa yang tidak disangka di Hari Raya tahun ini ialah kunjungan ziarah anak-anak buah waris dari sebelah arwah bapak saya yang berasal dari Singapura. Hanya waris sebelah bapak ini sahaja yang ada. "Kaput" nama gelarannya yang saya panggil dari ia kecil lagi dan ketika itu tinggal di Gelang, Singapura. Kini telah beristerikan orang Malaysia dan tinggal di Johor. Lihat di gambar. Kaput yang bersongkok putih dan isterinya  Ani duduk no.3 dari kanan.

Suami dan saya amat teruja dengan kunjungan ini kerana sudah lebih lima tahun tidak berjumpa. Mereka selalu datang ke rumah hampir setiap Hari Raya tetapi kami tidak ada di rumah. Tidak ada pesanan untuk datang. Maklumlah, Hari Raya. Rumah sentiasa "terbuka". Selalu saja mereka meninggalkan mesej sms tetapi tidak kesampaian untuk berhubung. Tidak ramai generasi muda yang berhemah sebegini rupa. Semoga Allah memberkati kunjungan ini.

Anak yang sulung telah pun sampai tingkatan 4 dan Alhamdulilah mereka kini nampak selesa hidupnya. Bukan kebendaan yang ingin saya cerita, tetapi sikap jati diri yang amat ketara. Saya sangat suka melihat orang sentiasa rajin berusaha. Bila rebah, bangkit semula dengan segera. Tidak membuang masa. Ini ciri-ciri yang Allah suka. Usaha adalah kewajipan atas manusia. Kejayaan adalah rahmat Allah semata-mata. Mereka faham konsep ini. Itu yang saya suka.

Semoga pertemuan kali ini akan mengeratkan lagi hubungan saudara. Sentimental bagi saya kerana itu sahaja kesan warisan yang ada dari bapak saya. Semoga Allah sentiasa memudahkan perjalanan hidup mereka dan mengurnia kejayaan bagi anak-anaknya.

Thursday, September 8, 2011

KELUARGA BESAR BIN HASSAN @ EDIULFITRI

Antara wajah-wajah keluarga besar bin Hassan.
Ramai lagi yang tiada di gambar kerana telah pulang awal atau lambat mensiapkan diri. 
Kami di sini selama 2 hari.

Setiap dua tahun sekali  keluarga besar Bin Hassan cuba berkumpul  kesemuanya sebagai usaha mengeratkan tali kasih sayang dan persaudaran kekluargaan. Suami saya yang tertua dan ia  menyarankan supaya ini menjadi acara yang  dapat diteruskan hingga ke anak cucu-cicit-oneng2 dan seterusnya. Semoga dapat terjalin kekuatan keluarga dan dapat mengarahkan tenaga mental dan segalanya untuk kekuatan negara dan ummah sejagat pula. 

Untuk menggarap  kekuatan masyarakat, langkah pertama adalah menjana kekuatan keluarga. Kami tidak kesempatan semasa ayah dan emak masih ada kerana masih sibuk dengan urusan perniagaan yang baru bermula dan tiada kesempatan kerana desakan jadual dan proses hidup harian yang serba kekurangan ketika itu.

Oleh itu untuk tidak melupakan perjuangan Ayah dan Emak (Tok Ayah dan Tok 'Kulim') kami menjadikan perkumpulan ini sebagai satu kemestian dalam keluarga. Selain dari perjumpaan Hari Raya, kami telah memulakannya untuk berjumpa sebulan sekali  di rumah salah seorang keluarga bermula pada  tahun lepas. Alhamdulilah,  kami telah dapat mengaturkan program dan aktiviti yamg dapat mengeratakan  hubungan anatara generasi dan  juga dalam peringkt generasi yang sama. "Legacy Bin Hassan" adalah nama projek ini. Tujuan utama adalah menjalin kasih sayang dan tujuan yang selanjutnya adalah untuk memastikan terbentuknya  sikap tolong menolong dalam keluarga tanpa mengira status pendidikan, status kerjaya dan apa jua status. Ia harus diasaskan pada jalinan ukhuwah kasih sayang berasaskan iman dan taqwa.

Kali ini kami berkumpul di Gunung Jerai Resort di Gurun Kedah. Satu pengembaraan mentadabbur alam sebagai matlamat sampingan.
Gunung Jerai Resort pada saya ia  seperti resort-resort biasa sahaja. Tetapi saya dapati harga chalet dan bilik-bilik agak tinggi. Mungkin kerana ia di atas gunung. Dan resort ini sesuai bagi peringkat muda kerana kita harus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Sememangnya kita boleh memnggil perkhidmtan buggy, tetapi tidak convenient. Maka bagi orang seperti saya rasanya tidak mungkin saya ke sana lagi.

Agak cantik juga pemandangan dan landscape yang ada. Tetapi aktiviti lain hanya untuk yang muda. Ada air terjun, katanya. Di situlah anak-anak muda Bin Hassan mandi manda.

Program yang terpenting ialah Qiamulail dan tazkirah. sebelum Solat Subuh. Surau yang ada agak jauh dari tempat kediaman. Maka hanya suami saya yang pergi. Kami hanya "wajibkan" pada yang lelaki sahaja. Tetapi masih ada ahli lapisan muda yang tidak menghadirkan diri.

Aktiviti ini dikendali oleh ahli keluarga sendiri yang berkelulusan dari Mesir. Alhamdulilah kami mudah dalam hal itu. Cabarannya hanya dari generasi muda yang kami mahu gilap potensi beribadah pada keseluruhanya. Kami ingin membudayakan solat malam kerana ini yang memastikan "the cutting edge" dalam apa jua tindakan, dengan izin Allah.  Solat ini khusus disebut di dalam alQuran. Rugilah kita jika mengambil ringan tentangnya. Semoga generasi pelapis Bin Hassan akan prihatin dan istiqamah melaksanakannya.

Antara liku-liku jalan sejauh 12 kilometer mendaki gunung.

Antara yang "menyambut" kedatangan kami, 'meriah" dan seronok sekali.

Makan bersama adalah antara ajinda terpenting.
Sambil makan sambil "berbicara" petua hidup dan kehidupan.
Genarasi muda sekarang sudah tidak yakin pada pepatah "siapa dulu makan garam".

Ada ahli keluarga yang menjadi tulang belakang pada misi kumpulan ini.
Ahli ini yang menjadi tunjang membina sikap jati diri generasi pelapis semoga visi dan misi keluarga Bin Hassan tercapai murni.

Generasi pelapis yang perlu bimbingan dan pemantauan.

Yang punya potensi untuk digilap mengikut hanya yang syarie

Yang masih di peringkat sekolah tidak dilupai

Yang sudah berkerja dan yang di University pun
derap langkah hidup perlu diawasi

Termasuk Imadd dan Atti yang berusaha datang walaupun Atti sarat menunggu
kelahiran cahaya mata idaman hati.
 
Si kecil yang belum mengerti tetap diberi ruang membina kebolehan diri.

Dan cucu-cycu yang  terlalu aktif perlu diperhati, dan program khas harus difikirkan agar
mereka mendapat perhatian sesuai dengan pembangunan minda dan psikologi.

Ada kepimpinan pelapis yang sudah mula menunjuk bakat dan boleh dicontohi.

Yang berkerja di luar negara  juga pulang untuk berserta membina kekuatan keluarga.
Semoga Allah meredhai.

Ahli yang ketinggalan saya cari dan rakam di majlis yang lain ini.
Harap tiada yang tertinggal dan berkecil hati.

Keindahan landskap yang memikat hati.

Pandangan matahari masuk dilihat dari varanda chalet kami.

Akhirnya melihat jauh mengharapkan keluarga ini dapat menerajui kepimpinan negara
dan menegakkan kebenaran Islam sebagai agama.
Semoga Allah memudahkan dan melimpahkan Rahmatnya yang tidak terhingga.

Wednesday, September 7, 2011

HEALING DIFFERENCES @ EID MUBARAK





 My brother, the only male sibling I have, is now a person full of warmth and cheer. I believe strongly  that he now can accept my ways and my thinking especially about love and family bonds. We have differences at the personal level and at the family level, but I persevere and took care of his "whims and fancies" the best way I know how. I could feel that we now can talk from our hearts and we can joke and laugh together like we know that true love can transcends any behavioral boundaries. I am grateful that Allah alMighty grants upon us the wisdom to see things in His perspective irrespective of our social standing. He now talks to me about Iman and Taqwa and sms me every week about the meanings of the verses of the alQuran and the Hadiths.

I am younger  by 4 years and we went through different channels of education and social upbringing. He was in a boarding school, at the Royal Military College and I grew up in the village  and the school I went to is no where near the status of his elite school. That was the beginning of the drift  and the beginning of the melting away of the family bond. By the Grace of Allah,  Eid Mubarak this year has healed  the difference and we are now making up for lost time.



 With my grand son and his grand daughter.

Alhamdulilah, being closed to my late mother and father I learned the wisdom of  life which my brother missed as he became an officer in the Army right  after graduating from the Military College and lived away from home after his marriage. The social fabric and environment is completely different and our social values are far apart. The  military culture after the nation's Independence is one which was  alien to me and to the family. We do not want to be judgemental but  my brother and I could not see things in the same perspective and my mother felt that  she has lost his son in terms of care and affection.I could never point fingers at whom to blame but myself because I did not have the social skill  and nor did I have the "spiritual"  power and endurance to steer the way to a more conducive setting to bring loved ones together.

But all is well that ends well, and on this gracious  Eidulfitri  morning I erased the not-so-sweet memory of the  past and  promised myself to continue nurturing the family bond  for now and the future. May Allah bless our family and may our family bonds grow even more sweet  and more harmonious.

With my nephews, and niece- in- law.

Monday, September 5, 2011

EIDULFITRI MULIA 1432 H



Entahkan berpeluang lagi atau tidak untuk tahun seterusnyan. Semoga Allah mengampuni dan meredhai diri ini.

Gambar kenanagn sebelum ke Masjid.

Saya rakamkan  peristiwa  kenangan di Masjid Al Hidayah, Kelana Jaya. Saya berterawih dan solat Eidulfitri di sana buat tahun 1432 H ini. Beberapa kenalan baru dapat terjalin silaturrahim dan amat rasa bahagia bertemu teman-teman  sesama kerja dahulu.

 Kusyuk mendengar khutbah.

Sempena ulang tahun Hari Kemerdekaan, maka tema khubah berkisar juga mengenai kemerdekaan. Namun tekanan adalah pada kemerdekaan hati nurani dari hasutan Iblis syaitan dan juga  mengenai kebebasan hawa nafsu. Saya suka mengingatkan diri saya bahawa syaitan hanya boleh menghasut dan mempengaruhi.. Ia tiada kuasa untuk memaksa kita berbuat sesuatu. Itu adalah pilihan kita sendiri. Maka selalu saya katakan pada anak-anak jangan mudah-mudah melemahkan diri sendiri dengan meletakan segala keburukan pada syaitan. Syaitan tidak dapat menyentuh hati-hati orang-orang yang benar-benar beriman. Itu janji Allah yang tersebut dalam alQuran.

 Teman-teman sepengajian dan seperjuangan.

Teman dan "boss" di Kementerian Pendidikan dulu.

 Teman-teman baru berkenalan, memberi inspirasi baru.

Teman lama "Lok" nama timangannya, (kiri). 
Yang di kanan seorang teman dari JPA semasa kerja dulu.



Bila pulang ke rumah kami segera bersiap-siap untuk balik ke Kedah menziarahi bapa-bapa saudara dan emak-emak saudara yang Allah masih kurnia umur untuk bersama. Alhamdulilah, kami dapat berzirah pernuh kemesraan. Hanya satu yang saya ingatkan anak-anak. Bila menrziarah saudara mara, terutamanya  ke rumah saudara tua, maka jangan lupa membawa buah tangan. Itu tanda kemesraan yang lebih dan itu tandan kesungguhan untuk meneruskan budaya memberi. Jika ramai orang suka memberi, maka akan lebih makmur hidup ini.

Emak-emak saudara, Chu Teh dan Mak Teh Chik.
Kedua-duanya hampir 80 tahun.

Cucu "Ujai" behari Raya bersama Embah dan Tok Ayah

Cucu Amanni Farissa yang tinggal bersama sebelum ke kampung neneknya di Kuala Selangor.

Sampai di sini dahulu. Saya dan suami akan ke Johor pula untuk sehari dua menziarahi kakak-kakak yang sudah kurang upaya. Nanti kita bercerita lagi. Alhamdulilah, bersyukur atas segala nikmat yang Allah kurnia. Yang susah menjadi mudah, yang berat menjadi ringan jika kita bekeyakinan penuh bahawa Allah tidak menjadikan kita dan segala makhluknya sia-sia. Buat sahaja yang Allah suruh dan tinggal yang dilarang. Saya mengingatkan  diri dan anak-anak agar tidak menzalimi diri. Takrif menzalimi diri harus difahami sepenuh hati semoga kita dapat pengiktirafan "hamba" sejati.

Kami memohon ampun semoga Allah meredhai.

Related Posts with Thumbnails